google-site-verification=40Fbao3OflKFqwGcTzNp4dD0oWw_HCMyoPMw8SojQcQ android

Friday, November 21, 2008

Air Asia Beli Persebaya?

Surabaya - Entah sekedar pepesan kosong atau serius, Ketua Umum Persebaya, Saleh Ismail Mukadar membawa kabar gembira bagi para pecinta Persebaya.






Kabar gembira tersebut terkait beralihnya Persebaya ke ranah profesional dengan menggandeng seorang investor. Bahkan, kata Saleh, saat ini pihaknya telah mendapatkan salah satu investor Persebaya yang berasal dari Malaysia.

"Saya Minggu besok akan ke Kuala Lumpur, mau ketemu dengan investor Persebaya," ungkapnya usai mengikuti 'Diskusi Menuju Persepakbolaan Profesional' di Rumah Makan Taman Sari, Surabaya, Jumat (21/11/2008).

Sayangnya, didesak siapa investor Persebaya itu, Saleh seolah-seolah berteka-teki. "Tidak enak kalau saya bicara sekarang, lebih baik kalian lihat nanti saja," tambah mantan Ketua Umum KONI Surabaya itu.

Oleh sebab itu, demi kepentingan Persebaya yang lebih besar, pihaknya harus rela tidak bisa mendampingi Bejo Sugiantoro dkk saat menjamu Gresik United (GU) diajang Copa Indonesia, Minggu (23/11/2008) lusa di Stadion Gelora 10 Nopember.

Namun kabarnya, dari desas-desus yang ada, investor yang dimaksud Saleh dari negeri Jiran tersebut adalah Air Asia, sebuah maskapai penerbangan yang berbasis di Malaysia.

Sementara perlu diketahui, saat ini ada tiga sponsor yang sudah merapat ke Bajul Ijo. Ketiganya itu adalah, sebuah perusahaan aparel olahraga Diadora, AIM Biskuit dan Telkomsel
(beritajatim.com)

Untuk Menarik Investor, Nama Persebaya Diusulkan Diganti

Surabaya - Regional Director Government of Western Australia, Martin Newbery menyarankan, jika Persebaya ingin maju dan menarik investor, maka tim Bajul Ijo harus ganti nama.





Martin yang ditemui dalam Diskusi Menuju Persepakbolaan Profesional, Jumat (21/11/2008) di RM Taman Sari mengatakan, klub sepakbola di Indonesia cenderung mempunyai nama depan sama yakni "Persi" seperti Persija atau "Perse" seperti Persebaya.

Untuk itu, bila Persebaya ingin maju dan lebih menjual, maka Bajul Ijo harus menanggalkan nama yang sudah dipakai sejak 81 tahun silam itu.

"Di Indonesia ini, banyak klub yang awal namanya Persi atau Perse, seperti Persebaya adan Persik. Kalau Persebaya mau maju dan menarik investor, ya harus ganti nama," tandasnya.

Dia mencontohkan, dalam logo baru, nama Persebaya bisa ditulis di bawah dan nama barunya di atas. Hal ini memberi kesan meski sudah ganti baju Persebaya tetap icon Kota Pahlawan.

"Contohnya saja Kota Pahlawan FC, nama Persebaya masih bisa dicantumkan di bawah, sedangkan nama barunya di atas," tambahnya.

Namun hal itu ditolak oleh Ketua Umum Persebaya, Saleh Ismail Mukadar. Menurut Saleh nama Persebaya adalah simbol sejarah dan kaya makna. Tak hanya itu, nama besar Persebaya sudah diakui di Indonesia.

"Mungkin tak harus ganti nama, karena nama Persebaya sudah menuai banyak sejarah," kata Saleh. (beritajatim.com)

Dalam diskusi tersebut, Martin mengaku simpati dengan kondisi sepakbola Indonesia. Dirinya beranggapan, adanya campur tangan pemerintah membuat sepakbola sulit berkembang. Untuk itu, Pemerintah harus menyerahkan sepenuhnya pada swasta untuk mengelola sepakbola.

"Salahnya begini, antara klub dan pemerintah dicampur. Padahal pemerintah bukan ahlinya dalam masalah bisnis, mereka ahli politik. Kalau mau maju, ya keduanya harus dipisah, kalau di Perth (Australia), semua klub sepakbola murni dipegang swasta," ujarnya.

Tak hanya itu, Martin menilai sepakbola Indonesia banyak diisi oleh orang-orang yang 'kotor'. Untuk itu dia menyarankan semua orang kotor tersebut harus dibersihkan dan diganti dengan yang baru.

"Sebelumnya saya minta maaf, kalau saya lihat Indonesia, pengurus sepakbolanya banyak yang kotor. Kalau ingin maju ya hilangkan semua orang kotor itu, lalu ganti dengan yang bersih dan dijaga," saran Martin.